Kisah Cinta Sedih ; ‘Usia Pernikahanku Hanya Bertahan 12 Hari’

Sunday, March 8, 2020

Mimin mau berbagi kisah pernikahan yang hanya bertahan selama 12 (dua belas) hari !. Bikin mimin ingin menangis karena ikut sedih membacanya.

Halo semua, namaku Nay, seorang perempuan kelahiran kota apel, Malang, yang saat ini berusia 23 (dua puluh tiga) tahun, yang ingin membagikan kisahku yang tidak pernah dibayangkan sebelumnya akan berakhir dengan penuh kesedihan. Tujuan aku bercerita kepada kalian adalah agar aku memperoleh support dan dukungan kalian semua. Aku juga ingin agar semua orang yang membaca kisah ini akan mampu memetik pelajaran agar jangan sampai terjadi pada orang lain.

Beberapa waktu terakhir ini, aku merasa lelah sekali dengan yang namanya hidup. Aku merasa ter“telanjangi” setiap keluar rumah, terutama apabila bertemu dengan orang-orang yang mengetahui tragedi yang aku alami. “Itu loh, cewek yang nikahnya cuman 12 (dua belas) hari. Ngga kasihan apa sama orang tuanya yang harus menanggung malu di depan kerabat dan tetangga-tetangganya ?”.

Aku yang dari aslinya sebenarnya suka banget beraktivitas di luar rumah, sekarang mesti harus pakai helm dan masker terlebih dahulu. Meski orang pun tahu itu aku. Setiap kemana-mana, orang melihatku dengan tatapan aneh disertai bisikan-bisikan yang aku dapat ketahui dari raut muka dan gestur tubuhnya.

Aku dan suamiku awalnya menikah pada 13 Desember 2019. Masih baru banget kan ?. Boleh dikata kami masih berstatus pengantin baru. Tapi entah mengapa, ketidakberuntungan seolah menjadi temanku. Pernikahan kami hanya berlangsung atau bertahan 12 (dua belas) hari. Kalian pasti heran kan ?.

2018

Aku mengenalnya sebenarnya sudah sejak 2018 namun waktu itu hanya saling mengenal sebatas sebagai teman biasa. Ia adalah teman dari temanku. Sejak perkenalan pertama, kami berangsur-angsur semakin dekat. Sebagaimana orang yang saling dekat, kami pun sering melakukan chatting, telpon sampai larut malam, dan video call di tengah kesibukan, hanya untuk memastikan bahwa keadaan kami baik-baik saja. Iya, seindah itu hubungan yang kami jalani tanpa ada deklarasi “pacaran”.

April 2019

Aku masih ingat sekali, bertempat di suatu café di Batu, Malang, ia menyampaikan keinginannya untuk menjalin hubungan yang lebih “serius”. Aku cuma menjawab, “Oh, pacaran maksudnya ?”. Tapi diluar ekspektasi, ia justru bilang, “Ngga. Aku sudah bosan pacaran. Kita udah deket kan selama ini”.

Lah, trus apa dong ?” tanyaku. “Ayo nikah. Aku udah yakin sama kamu dan juga udah bilang ke orang tuaku kalau dalam waktu dekat, aku bakal ngelamar anak orang”. 

Siapa yang ngga kaget mendengar ungkapan seperti itu. Di umur 23 tahun, ada laki-laki yang berniat baik melamarku. Tapi aku tidak menjawab saat itu juga. Aku minta waktu untuk berpikir. Di satu sisi, aku sudah mengenal lama dan yang aku tahu, dia orangnya baik, pekerja keras, dan mampu membantu ekonomi keluarganya sejak ayahnya meninggal dunia. Aku juga berusaha stalking ke semua medsos-nya, siapa tahu ada sisi lain yang ngga aku ketahui. Dan tidak ada yang aneh dari dirinya. Semuanya baik-baik saja. Pikirku begitu. Apalagi melihat dia dengan gentle menyampaikan niat untuk menuju jenjang yang lebih jauh. Aku yakin, kalian, wahai para wanita, bakal susah menolaknya. Akhirnya dalam waktu 1 (satu) minggu, aku berhasil berdiskusi dengan orang tuaku mengenai rencana itu.

Orang tuaku kaget setengah mati begitu tahu aku ingin menikah. Ngga ada aba-aba apa pun, tiba-tiba putri pertamanya ijin mau dilamar orang. Senang bercampur terharu tentunya, meski juga dilanda kebingungan. Pernak-pernik dan urusan mempersiapkan akad dan resepsi pernikahan bukanlah perkara mudah. Butuh energi waktu dan biaya yang tak bisa dianggap sepele.

Setelah diskusiku dengan orang tua selesai, aku akhirnya mengajak ketemuan calon suamiku itu dan aku jawab “yes”. Segala keraguan aku buang karena di mataku, ia benar-benar orang baik. Dan pas mengantarku pulang ke rumah, ia pun mengutarakan niatnya kepada ayahku langsung. “Pak, Senin depan, saya dan keluarga akan bertamu ke rumah Bapak dengan niat baik untuk melamar putri Bapak”. Mendengar itu, mata ayahku berkaca-kaca karena haru. Ayahku lalu memegang pundaknya dengan masih mengenakan sarung sehabis sholat. “InsyaAllah kalau kamu memang ada niat baik, ada jalan untuk menuju ke sana. Silakan, kami menunggumu dan keluargamu datang”. Aku dan mamaku yang berdiri hanya bisa melihat dan mendengar percakapan itu sambil berkaca-kaca juga.

Akhirnya hari Senin pun tiba. Kami melakukan prosesi lamaran. Dia datang bersama 13 (tiga belas) anggota keluarga dan kerabat dekatnya. Di rumah kami pun banyak saudara yang datang. Semua prosesi dilakukan secara sederhana, tanpa ada dekorasi khusus dan dengan dokumentasi sekedarnya. Nah, pas penentuan tanggal pernikahan, rupanya perkiraanku meleset. Aku pikir paling cepat menikah di 2020 namun ternyata Desember 2019, dan sudah ditetapkan tanggalnya yaitu 13 Desember 2019. Kaget ?. Pasti. Antara ragu-ragu dan tidak siap, namun itu harus tetap dijalani karena sudah menjadi keputusan kedua pihak keluarga. Jadi kami resmi bertunangan di hari itu dan menunggu sekitar 8 (delapan) bulan sampai hari H pernikahan. Tidak ada yang aneh selama masa penantian itu sampai pelaksanaan sesi foto prewedding. Kami melakukan sesi itu dengan bahagia. Pertemuan demi pertemuan kami jalani guna membicarakan pernak-pernik pernikahan mulai dari desain kartu undangan, dekorasi, bahkan sampai menu makanan di hari H.

Sampai di hari H-30, ada sedikit kerikil-kerikil perselisihan. Orang bilang itu hal yang wajar karena cobaan biasanya datang menjelang pernikahan. Kita mengalami perdebatan sampai bertengkar hebat. Orang tua kami masing-masing akhirnya tahu. Namun bersyukur masih bisa diatasi percekcokan tersebut. Meskipun demikian, cara marahnya dia itu, aku tak akan bisa lupakan. Bagaimana nada tingginya itu, bagaimana telunjuknya diarahkan ke mukaku, dan yang sampai aku tak habis pikir, ia sampai berani mendorong tubuhku sampai hampir aku terjatuh. Kaget setengah mati aku. 

Aku tidak berani bercerita kepada orang tuaku tentang sikapnya yang tiba-tiba seperti itu. Pernikahan sudah semakin dekat. Undangan sudah siap disebar, gedung resepsi pernikahan dan catering sudah terlunasi.

Bingung !. Tiba-tiba aku merasa sangat takut berhadapan dengan dia. Hampir 10 (sepuluh) hari, kami tidak bertemu, hanya komunikasi via WA. Sampai di H-10, aku menemukan suatu percakapan di handphone-nya, chat dia dengan kakak iparnya (istri dari kakak laki-lakinya). 

Aku sendiri tipe orang yang suka beraktivitas di mana-mana selama ada kesempatan dan kesehatan. Pagi sampai sore aku membantu usaha keluarga di rumah dan di malam harinya aku mengajar privat anak SMP dan SMA. Di hari Ahad, aku ngajar tambahan di salah satu sekolah Islam di dekat rumah. 

Karena murid-muridku di sekolah itu hendak ujian, aku sempat tidak diijinkan cuti pas hari Ahad. Aku pun menyampaikan hal ini ke calon suamiku. Alhamdulillah ia mengijinkan aku tetap mengajar karena jadwalnya pun hanya beberapa jam saja dan bisa balik ke rumah. Aku bersyukur banget. Lega karena dia bisa mengerti dengan kondisiku. Namun isi chat WA yang aku baca di handphone-nya menunjukkan adanya ketidaksetujuan ipar calon suamiku. Dan ia ngobrol dengan iparnya dengan pembahasan yang menjelek-jelekkanku di depan kakak iparnya itu. Pas kubaca semuanya, aku merasa runtuh dan sangat sakit hati, sampai tulang belulangku terasa remuk. Padahal iparnya itu juga kelihatan baik banget saat berada di depanku.

Mau marah ke siapa, aku tak tahu. Yang aku tahu, calon suamiku itu suka dengan wanita yang mau bekerja dan mandiri. Aku mau menanyakan perihal keanehan sikap calon suamiku namun ini sudah H-10. Aku hanya foto percakapan WA itu. Nanti setelah sudah menikah, baru aku akan coba tanyakan baik-baik perihal ini (waktu aku baca WA itu, handphone sedang ditaruh di meja dan ia sedang pergi ke kamar mandi).

Dan Inilah Tanggal yang Ditunggu, 13 Desember 2019

Hari itu pun tiba. Keluarga semua berkumpul dalam suasana bahagia. Kami melangsungkan akad pernikahan pada pukul 07.00 WIB dan berjalan lancar. Dia mengucapkan lafadz ijab kabul dengan sekali tarikan nafas. Seketika pikiran buruk pun semua hilang. Hari ini dia telah menjadi “imam”ku dan terhitung hari ini aku akan melupakan semua keburukan yang terjadi sebelumnya.

Hari Ahad acara selanjutnya dilaksanakan di tempat dia yang dihadiri keluarga besarnya. Aku memutuskan untuk mencarikan guru pengganti di sekolahku untuk sehari itu saja setelah membaca chat dia dengan iparnya  waktu itu.

Hari pertama, kedua, ketiga, belum ada hal yang aneh. Kami masih sama-sama libur bekerja. Tapi kita belum “ngapa-ngapain” karena pas hari H itu pun, aku sedang datang bulan. Hari ke-4 masih terbilang baik-baik saja, namun ada sedikit keanehan. Di hari itu tidak ada obrolan sama sekali. Pada sore hari ia pergi ke rumah temannya dan ketika pulang malam langsung tidur. Aku masih berpikiran positif. Aku anggap ia kecapean habis main dengan temannya atau bagaimana.

Hari ke-5 pagi pagi, tiba-tiba ia bilang mau masuk kerja, padahal hari itu adalah hari “sepasaran”, kata orang Jawa. Jadi sebelum sepasar, si pengantin tidak boleh kerja dulu. Yang awalnya ia mau masuk kerja di H+8, kini ia berangkat di H+5. Mamaku sempat mau menanyakan langsung ke dia namun merasa tak enak hati.

Sampai Hari Ke-12 Pagi Jam 05.00 WIB
      
Aku muntah-muntah dan diare. Kamar mandi cuma ada satu di lantai satu, jadi setiap kali muntah, aku pasti ke sana. Dia tahu, dia melihat, dan dia mendengar aku muntah-muntah. Tapi dia sama sekali tidak bertanya kamu kenapa atau apa pun itu. Pagi itu dia tetap ganti baju dan pergi berangkat kerja. Akhirnya aku sendirian di rumah waktu itu. Mama mertuaku lagi tidak ada di rumah.

Akhirnya jam 09.00 WIB aku sudah tidak kuat berdiri. Aku terpaksa telpon ayahku sambil menahan tangis. Beliau kaget dan bertanya, “Ada apa kak ?”. Aku masih diam sesenggukan. Setelah ditanya ulang, aku akhirnya memberanikan bicara. “Maafin aku ya pa. Aku hanya bisa merepotkan papa”. “Ada apa sih kak ? Kamu kenapa ?” tanya papa yang masih keheranan. “Papa bisa jemput aku dulu ngga. Anter aku ke dokter ya pa. Aku ga bisa berdiri. Badan lemes banget”. “Tunggu, papa segera kesana”, lalu telpon pun dimatikan.

Sekitar 15 (lima belas) menit aku kemudian mendengar langkah papa di depan rumah. Beliau datang bersama kakak keponakanku yang kerja ikut papa. Pas papa buka pintu, papa langsung menuntunku ke mobil. Beliau tidak bertanya apa-apa. Pas sudah masuk mobil, aku baru bercerita semuanya. Dengan berjuta maaf kata itu aku ulang-ulang. Setelah tahu respon beliau, aku minta diantar dulu ke rumah, pengin ketemu mama dulu. Biar mama yang bikinin obat, jamu-jamuan gitu. Pas nyampai rumah, mama udah nungguin di ruang tengah. Entah mengapa begitu ketemu mama, aku langsung nangis begitu saja.

Aku lantas dibawa ke kamar dan dipijitin sama mama. Aku bercerita kembali semuanya kepada mama sampai akhirnya mama pun ikut nangis. Di akhir cerita, mama cuma bilang, “Nak. Mama tahu ini salah. Cuman jangan gegabah ya. Kita obrolin dulu kalau suamimu pulang kerja. Kasih tahu dulu bahwa kamu ada di sini, biar dia nyusul”. Sorenya, aku telpon dia, “Mas, aku lagi sakit, dan sekarang ada di rumah mamaku. Kamu ke sini ya”. Dan dia jawab apa, “Aku juga pusing tadi makan gule kambing. Ya udah, kamu tidur di sana aja. Aku tidur di rumahku”. Aku makin ngga karuan, berasa tubuh ini dihantam benda keras yang berat dan panas. Akhirnya aku cuma jawab ke dia knapa sih bisa berubah begitu. Tidak mau kasih nafkah batin, kerja tidak pernah pamit, dan bla…bla…bla… Dia cuma bilang, “Maaf…maaf banget”. Udah, gitu doang !.

Aku sesenggukan keras sambil gedor-gedor lemari di samping ranjang tempat tidur. Entah knapa aku lakukan hal itu. Pas papa masuk makar, aku bilang bahwa dia tak mau ke rumah dan cuma bilang maaf. Aku nangis makin kencang, mama pun ikut nangis terjongkok di sebelah ranjang. Papaku terlihat menahan emosi. Terlihat banget wajahnya memerah.

Akhirnya papa ganti baju dan keluar bersama mama, pergi ke rumah ortunya doi. Karena ayahnya sudah meninggal, yang menemui adalah om-nya. Ayah ke sana dan menanyakan mengapa bisa seperti ini. Ada apa dengan anak saya. Intinya papa sangat kecewa. Dan pas doi ditelpon om-nya, dia cuma bilang, “Maaf, aku ngga bisa nerusin pernikahan ini”. Astagfirullah. Pas dengar itu, ayah langsung bilang dengan tegas, “Ya sudah, tolong selesaikan sendiri kata-katanya dia dengan anak saya. Biar anak saya kembali ke keluarga saya. Saya masih bisa mengurusnya !”.

Papa pulang. Sebenarnya aku tidak mengetahui hasil pembicaaan mereka dari papa, tapi dari mama yang nyamperin aku. Mama meluk aku dan berusaha menguatkan hatiku. “Yang kuat ya Nak, yang tabah. Anak mama cantik. Anak mama masih muda. Anak mama yang terbaik”, ucapnya sambil nangis dan mengelus punggungku.

Dari situ, aku faham bahwa dari kalimat mamaku aku tahu bahwa kini aku sendiri. Aku tidak punya dia. Dia tidak akan bakal balik ke sini. Aku diam, speechless. Pandanganku kosong dan hampa. Aku benar-benar tidak ingat waktu itu bagaimana dengan diriku. Yang aku tahu, semuanya telah hancur.

Setelah mama keluar kamar, aku ambil HP dan beranikan diri chat ke dia :

Aku : Tolong. Dulu kamu minta aku ke ortuku dengan baik-baik. Sekarang kembalikan aku ke orang tuaku dengan cara yang baik pula.

Dia : Maaf, traumaku yang dulu belum hilang.

Aku : Kutunggu di rumah. Aku sudah bilang Bapak Ibu. Kamu sendiri yang tidak bisa mengatasi traumamu. Aku sudah mencoba menjadi istri yang baik. Aku mencoba diam dan sabar. Tolong kembalikan aku ke orang tuaku dengan baik. Dan kudoakan kamu mendapatkan wanita yang lebih baik dari aku. Ikatan ini berarti besar buat aku. Sayangku ke kamu melebihi sayang ke diriku sendiri. Aku mencoba memenuhi apapun yang kamu butuhkan, cuma ternyata tidak ada timbal balik. Terima kasih sudah memberiku momen yang indah. Aku tidak menyangka pagi tadi adalah hari terakhir aku melihat dirimu. Semoga sehat selalu suamiku.

Setelah chat itu, tidak pernah ada lagi balasan yang masuk. Aku tidak faham dia trauma apa. Tapi dari cerita yang aku peroleh, dulu katanya ia pernah gagal nikah. Sudah bertunangan dan mendekati hari H namun berantakan. Tapi mengapa trauma itu dilempar ke aku ?. Ya Allah, sumpah, sakit sekali.

Setelah peristiwa itu, 2 (dua) minggu aku tidak keluar kamar. Maunya tidur dan gelap-gelapan terus. Sempat berpikiran untuk mengakhiri hidup, namun setiap mikir ke sana, aku selalu terbayang-bayang mama dan papaku.

Sampai sekarang, dia ataupun keluarganya tidak ada yang datang ke rumah untuk bertanya atau secara resmi mengembalikan aku ke orang tuaku. Sudah cukup 2 (dua) minggu aku seperti merasakan neraka di atas kepalaku sendiri. Aku share cerita ini agar kalian tidak mengalami hal yang sama. Aku harap hanya aku yang terakhir mengalami masalah seperti ini. Semoga kalian dapat memetik pelajaran dari apa yang terjadi denganku. Dan jika dia membaca cerita ini, semoga dapat mewakili rasa sakit yang sudah kau beri. Terima kasih. Terima kasih banyak sudah mengajarkan kesabaran tiada ujung. Semoga kamu bahagia . 

Cerita cinta

Post a Comment